Langsung ke konten utama

Kisah Rambutku yang membuat saya terlihat pekerja keras

Alkisah, saya mempunyai rambut. Sudah sejak sekitar bulan maret 2010, saya tidak pernah mencukurnya. Karena saya berangan-angan, akan mencukurnya ketika WISUDA dan itu sudah menjadi janji kepada diri saya sendiri dan beberapa orang teman Semacam nazar gitulah. Dan juga Biar keren. Biar kelihatan kayak udah kerja keras di dalem hutan sampe lupa ngecukur (kayak Tony Stark waktu di Goa lah).

Sampe bulan desember kemaren, udah lumayan gondrong, gak biasanya. Biasanya saya sebulan udah cukur, cukur ampe cepak.

Awal-awalnya "iman" saya masih kuat. masih bisa menahan gatal dan menahan gangguan penglihatan dari rambut yang menjuntai-juntai di depan mata. Atau gatal ketika rambut masuk telinga. Mungkin masih bisa tahan, karena saya disibukaan dengan aktivitas sehingga agak teralihkan gangguan-gangguan itu.



Nah, saya memasuki libur akhir tahun.Natal dan Tahun BAru. Saya menikmati liburan di rumah. Mungkin karena nyantai-nyantai, kok gangguan-gangguan tadi makin kerasa. wah membuat saya gak bisa mikir jernih.Perlahan-lahan, imanku mulai runtuh. Sehingga di otak ku, ada dua kubu.

Kubu pertama: Kubu yang membisikkan kata " Ayo potong, supaya nyaman!"
Kubu kedua : kubu chan yang membisikan kata " nippon-nippon cha cha cha"

.....tentu tidak

Kubu kedua : kubu yang membisikan kata " Jangan dipotong be, kan lo udah janji ama diri sendiri, kan biar keren jg kayak pekerja keras kalo gondrong"



Namun, sepertinya si kubu pertama memenangkan pertempuran tersebut, setelah saya berkonsultasi dengan ibu.

saya :  "mah, potong gak ya??"
mamah : "potong aja, supaya tampangnya gak tua"


Besoknya, dengan berat hati, rambut saya dicukur oleh mamah di rumah. Dicukur pendek..

Selamat tinggal rambutku, terima kasih telah membuatku terlihat seperti pekerja keras. Semoga kelak kita bertemu lagi : D

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Camp On Farm : Melihat Langsung Proses Pengolahan Biji Kopi

Berawal dari sebuah obrolan singkat dan diajak oleh seorang teman, saya memutuskan untuk mengikuti acara  Camp on Farm yang diadakan  Agritektur (sebuah komunitas yang concern di bidang pangan. CMIIW ) . Camp on Farm telah diadakan beberapa kali sebelumnya dengan mengunjungi berbagai lokasi pengolahan bahan makanan. Kini Camp on Farm yang  diadakan pada tanggal 21-22 Juni 2014 mengunjungi sebuah Kebun Kopi di Gunung Puntang, Jawa Barat. Melalui acara ini kita diajak untuk melihat secara langsung proses pembuatan kopi dari mulai pemetikan hingga penyajian di atas meja makan. Sebetulnya saya bukan seorang Coffee Geek yang tau mana bedanya kopi enak dan enggak (wawasan saya cuman luwak white coffe aja haha). Namun, berlandaskan keingintahuanlah yang membuat saya ikut. Hari I  Setelah sekitar 2 jam perjalanan dari Bandung menggunakan minibus, kami disambut oleh beberapa orang yang tergabung dalam koperasi bernama Klasik Beans Cooperative . Dan ternyata koperasi yang beranggotaka

Belajar Leadership dari “Band of Brothers”

Leadership (kepemimpinan) menjadi salah satu topik yang gw perhatikan sejak sekitar 5 tahun terakhir. Sebetulnya mungkin jauh sebelum itu. Alasan gw tertarik bukan karena gw tipikal “ leade r banget” gitu, tapi justru gw defaultnya kurang banget jiwa kepemimpinannya. Karena itu gw selalu coba belajar untuk bisa meningkatkan kapasitas kepemimpinan gw. Tiba-tiba timbul pertanyaan dalam otak gw, kapan ya gw mulai tertarik, atau setidaknya aware bahwa ada topik atau ilmu soal leadership ? TK, SD rasanya gw gak banyak terpapar karena gw gak ikut paskibra dan sebagianya. Paling sempet tahu sedikit kalau bokap gw memimpin perusahaannya sendiri. Terus juga paling gw sempet inget gw pertama kali jadi pemimpin upacara adalah saat SD. Atau tahu kalau tim bola ada kaptennya. Tapi tetap gak ngerti esensinya.  Setelah gw inget-inget lagi, kayaknya gw mulai aware sekitar SMP. Bukan dari kegiatan sekolah, bukan dari buku, tapi dari mini-series yang gw tonton, yaitu “Band of Brothers” .  Bagi pecint

MEMPERTAJAM KONSEP DESAIN DENGAN DESIGN REQUIREMENT & CONSTRAINT (DRC)

Catatan: Bukan tulisan ilmiah. Jadi mungkin gak valid buat bahan referensi karya tulis ilmiah Masih perlu dilengkapi sumber referensi                                     Pengaplikasian teori pada tulisan ini sangat kondisional, tergantung jenis produk, kondisi perusahaan dan lain-lain. Mungkin dalam kondisi tertentu keseluruhannya bisa dilakukan, atau sebagian saja. Sebagai sebagai desainer (khususnya desainer produk) mungkin anda pernah mengalami situasi kebingungan ketika anda ditugaskan oleh atasan/klien anda untuk mengembangkan suatu produk tanpa arahan yang jelas, umumnya arahannya hanya "buatin dong konsep desain yang bagus yang keren", "buatin dong desain yang bisa laku dipasar"dan sebagainya. Akibatnya, desain yang diinginkan tidak memiliki arah yang cukup jelas sehingga desainer menjadi terlalu "liar" dalam membuat konsep dan mungkin terjebak dalam eksplorasi bentuk dan sketsa saja. Akibatnya, desain dari sejak konsep me